Selasa, 28 Februari 2017

Sukarno Termakan Hoax !


Tulisan-tulisan Sukarno dan Hatta yang sangat hangat dalam berdiskusi terdapat dalam koran-koran fikiran ra’jat dan Utusan Indonesia. Agar lebih mudahnya pembaca dapat menemukan tulisan tersebut dalam buku Dibawah Bendera Revolusi Jilid I dan buku Otobiografi Mohammad Hatta: Untuk Negeriku. Kedua buku tersebut menjelaskan perbedaan pendapat dan diskusi hangat antara Sukarno dan Hatta.

Perdebatan tersebut diawali oleh adanya persilangan pendapat antara Sukarno dan Hatta terkait paham nonkooperasi serta hangatnya nuansa politik antara Partai Nasional Indonesia dengan Pendidikan Nasional Indonesia. Sebenarnya keduanya memiliki sebuah pandangan yang sama yaitu menolak bekerjasama dengan pemerintah jajahan dalam sebuah parlemen yang dibentuk oleh pemerintah. Akan tetapi sebuah kabar yang belum diverifikasi kebenarannya terdengar oleh Sukarno. Berita tersebut dimuat oleh majalah Aneta yang mengumumkan penerimaan tawaran kandidat anggota Tweede Kamer dari Partai Sosialis Merdeka.
Kabar tersebut membuat Sukarno geram dan mengatakan bahwa “seseorang jang mau duduk dalam Tweede Kamer, sekalipun ia membanting tenaga sehaibat-haibatnja, berdjoang disana mati-matian menentang imperialisme Belanda, orang itu adalah seorang cooperator.”[1] Kalimat Sukarno tersebut memiliki alasan karena dalam proses terpilihnya seorang anggota Tweede Kamer, maka anggota terpilih tersebut harus mengucapkan sumpah setianya kepada Undang-Undang Dasar Belanda.
Sukarno yang termakan hoax semakin terpancing emosinya dengan mendikte perilaku Hatta jika terpilih menjadi anggota Tweede Kamer. Sukarno mengatakan bahwa
“salah barang tentu, saudara Hatta di Den Haag tidak akan berfoja-foja sahadja, saudara Hatta di Den Haag akan berdjoang, akan membanting tulang, akan mengeluarkan tenaga, akan memandi keringat beranggar dengan kaum imperialis dan kapitalis. Saudara Hatta di Den Haag akan berkelahi mati-matian dengan musuh kita jang angkara murka. Saudara Hatta dengan sukanya pergi ke Den Haag itu, tidak berbalik mendjadi lunak, tidak berbalik mendjadi orang “apem”, tidakpun berbalik mendjadi orang jang tidak radikal. Kita mengetahui ini semuanya. Kita sebagai tahadi kita kemukakan, djuga mengetahui bahwa misalnja kaum C. R. Das, kaum OSP, kaum Komunis, jang duduk di dewan atau diparlemen itu, bukan duduk disitu buat foja-foja, bukan duduk disitu buat mendjadi lunak, bukan duduk disitu mendjadi kaum “apem”, tetapi adalah disitu berdjoang dan tetap bersikap radikal.”[2]

Sukarno menduga bahwa Hatta yang suka hidup di Belanda akan berfoya-foya jika telah menjadi anggota Tweede Kamer. Hatta akan sangat berbeda dengan kaum komunis yang masuk dalam keanggotaan Tweede Kamer. Darsono ketika itu diajukan sebagai kandidat anggota Tweede Kamer mewakili C. P. H. Ketika proses pemilihan berlangsung, Perhimpunan Indonesia menyerukan kepada anggotanya yang telah memiliki hak pilih untuk memilih Darsono sebagai pahlawan bangsa Indonesia bukan sebagai anggota C. P. H.[3] Sukarno yang terbawa hati yang panas mengatakan bahwa “kalau hanja buat berdjoang sahadja, di Volksraad pun orang bisa berdjoang!”[4]
Beberapa hari setelah berita yang dikeluarkan oleh Aneta tersebut, majalah Sin Po dan Utusan Indonesia mencoba untuk menanyakan perihal tawaran kursi Tweede Kamer yang diterima Hatta. Hatta menjawab bahwa
“aku menjawab bahwa OSP benar meminta aku dengan telegram untuk dikandidatkan menjadi anggota Tweede Kamer. Pertnyaan kedua membikin geli hatiku sebab aku belum membalas permintaan itu, artinya belum menyatakan apa-apa, tetapi aneta dan orang dari luaran sudah memberikan jawaban untuk aku.”[5]

Pernyataan aneta yang mendahului pernyataan dari sumber yang bersangkutan adalah sebuah cara untuk membuat kesimpulan yang dapat memberikan keuntungan baginya. Sin Po dan Utusan Indonesia kemudian meminta kepada Hatta untuk menjelaskan prinsip dasar nonkooperasi bagi masyarakat. Hatta kemudian menjelaskan
“nonkooperasi bermaksud tidak mau bekerja sama dengan pemerintah jajahan. dan di negeri jajahan ia menolak schijn-parlement, dewan rakyat yang palsu [Volksraad], yang diciptakan oleh pemerintah untuk mengelabui mata rakyat. Taktik nonkooperasi ialah menarik garis antara sana dan sini untuk membangun semangat rakyat, supaya sanggup mendirikan masyarakat sendiri. Nonkooperasi yang sejalan dengan memboikot raad-raad yang bukan dewan rakyat terdapat di negeri jajahan. Akan tetapi, pemboikotan itu tidak pernah ditujukan kepada parlemen, yang dipilih oleh rakyat dengan algemeen kiesrecht seperti Tweede Kamer, yang bukan pula dewan jajahan. Dewan ini dipandang perlu boleh dipakai untuk menyerang kolonial imperialisme.”[6]

Hatta memahami bahwa volksraad yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda tidak sepenuhnya menjalankan prinsip demokrasi. Volksraad didirikan untuk mengelabui mata rakyat Indonesia dan dunia agar pemerintah Hindia Belanda dipandang telah menjalankan prinsip demokrasi tersebut. Hal itu berbeda dengan Tweede Kamer, perbedaan itu terletak dalam prinsip demokrasi terutama check and balances. Volksraad tidak memiliki hak tersebut hingga akhir hayatnya, meskipun secara legal formal tercantum hak check and balances, akan tetapi dalam pelaksanaannya tidak dilakukan.
Mungkin pembaca sedikit bertanya mengapa Hatta dapat diajukan sebagai kandidat Tweede Kamer di Belanda? Padahal Hatta adalah seorang Indonesia dan sedang berada di Indonesia. Hal itu dapat dijawab melalui Atoeran Pemerintahan Hindia yang menyebutkan bahwa “Dinegeri belanda misalnja seorang boemipoetera, jang dilahirkan di Hindia, dan jang orang toeanja tinggal di Hindia,-djadi dia itoe seorang ra’jat belanda tinggal di tanah belanda,- maka diapoen mempoenjai hak memilih lid parlement sebagai seorang belanda; dan diapoen djoega dipilih djadi lid parlemen itoe.”[7] Berdasarkan peraturan tersebut, maka Hatta dapat diajukan sebagai anggota Tweede Kamer.
Hatta kemudian memberikan jawaban kepada OSP pada tanggal 13 Desember 1932 yang mengatakan bahwa “Saudara De Kadt, sebagai keterangan pada jawaban saya dengan kawat yang berbunyi: tidak bersedia, keterangan dengan surat menyusul”[8] Hatta menambahkan keterangannya bahwa jika dia terpilih melalui rapat pengurus PNI, maka dia akan menolaknya karena Hatta akan berusaha memberikan tenaganya bagi perjuangan bangsa Indonesia, di negeri Indonesia.
Berdasarkan peristiwa tersebut, kehati-hatian dan sikap verifikasi sumber berita harus dikedepankan. Hal itu diperlukan agar kita tidak dapat termakan hoax yang ditujukan untuk mengambil keuntungan bagi pihak-pihak tertentu. Dewasa ini, hoax dapat tersebar dengan mudah dan cepat melalui berita online. Verifikasi atau klarifikasi akan berita tersebut harus dikedepankan. Pembaca juga harus memiliki kepekaan akan sebuah judul artikel. Judul artikel yang terkesan menyudutkan atau tidak berimbang lebih baik tidak dibaca karena akan mengundang emosi sesat, bukan sesaat. Mari kedepankan verifikasi sumber (kritik sumber), demi menghindari hoax.





[1] Soekarno. 1963. Dibawah Bendera Revolusi Jilid I. Djakarta: Panitia Penerbit. hlm. 207-208.
[2] Ibid. hlm. 213.
[3] Moh. Hatta. 2015. Politik, Kebangsaan, Ekonomi (1926-1977). Jakarta: Kompas. hlm. 157.
[4] Op. cit.
[5] Moh. Hatta. 2011. Untuk Negeriku: Berjuang dan Dibuang. Jakarta: kompas. hlm. 50.
[6] Ibid. hlm. 51.
[7] J. Riphagen. 1927. Atoeran Pemerintahan Hindia Belanda. Weltevreden: Balai Poestaka. hlm 7.
[8] Op. cit. hlm. 53.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar