Senin, 01 April 2019

Invasi Jepang, Depresi Ekonomi Adalah Pintu Gerbang

Depresi ekonomi yang terjadi di tahun 1930 merupakan pintu masuk jepang untuk merebut hati rakyat Indonesia. Di tengah mahalnya harga sembako dan merebaknya berbagai macam penyakit. Pedagang sekaligus mata-mata jepang menjual berbagai macam kebutuhan hidup rakyat dengan harga yang sangat murah. Jendral hoegeng di masa kecilnya memberikan kesaksian bahwa terdapat salah seorang jepang yang memiliki usaha toko kelontong dengan harga murah kemudian ketika jepang datang, orang itu merupakan salah satu perwira tinggi angkatan laut jepang. Tidak hanya itu, mata-mata jepang juga banyak yang menyamar sebagai jurnalis.

Salah satu produk yang sangat disukai oleh rakyat Indonesia adalah obat batuk bermerk Djintan. Kemudian obat batuk ini dipanjangkan artinya menjadi Djendral Japan Itoe Nanti Toeloeng Anak Negeri. Masyarakat Indonesia mengartikannya bukan sembarangan, mereka mengartikannya berdasarkan kekuatan ramalan Jayabaya. Ramalan ini tidak hanya dipercaya oleh masyarakat biasa, akan tetapi juga dipercaya elite politik sekelas Soekarno dan M. H. Thamrin.
Lirikan jepang ke wilayah selatan memang patut dicermati jika negeri induk paham benar situasi geopolitik dunia. Negeri induk hanya paham bagaimana cara mendapatkan uang dari tanah Hindia dan tidak peduli ancaman yang ada. Di dalam sidang Volksraad, kelompok fraksi nasional sudah kerapkali memberikan peringatan kepada pemerintah Hindia Belanda.
Pemerintah Hindia Belanda yang tidak mau ambil pusing hanya mengajukan usulan agar diadakannya indie weebaar. Ya benar usul ini sama persis dengan tahun 1918 ketika perang dunia 1 mengancam. Pembahasan ini memang sama persis dengan tahun 1918 dimana kelompok sayap kanan VC (Vanderlandsche Club) menolak memberikan senjata kepada bangsa Indonesia. Hal itu tentu saja diserang oleh Fraksi Nasional dengan mengatakan bahwa nasib tentara angkatan laut bangsa Indonesia hanya menjadi tukang kebersihan kapal!
Di tahun 1930 hingga 1942 perdebatan di Volksraad sungguh amat sangat panas. Bangsa Indonesia yang diwakili oleh Fraksi Nasional diserang dengan kata-kata "makan dulu baru politik-politiken. Hal itu dibalas dengan pernyataan bangsa Indonesia akan keluar dari parlemen (kejadian ini muncul pasca munculnya slogan-slogan Indonesia Berparlemen)
Jepang yang melihat keadaan Indonesia memberikan sebuah kode penyerbuan yang bocor di salah satu koran lokal. Salah satu perwira Jepang mengatakan bahwa wilayah selatan yang mulai melemah akan menjadi salah satu bagian nippon. Sayang, kode ini tidak ditangkap oleh pemerintah Hindia Belanda sehingga wilayah pendaratan pasukan Jepang dengan sangat mudah dikuasai.
Jepang dengan semangat mempersatukan dan membangkitkan bangsa Asia berhasil mempengaruhi Parindra (Partai Indonesia Raya). Parindra dalam majalahnya yaitu Soeara Parindra secara terang-terangan mendukung fasisme jepang. Parindra terpengaruh oleh ramalan jayabaya, sedangkan disisi lain terdapat beberapa tokoh yang menolak fasisme jepang. Salah satunya adalah Ki Hajar Dewantara yang mengirimkan surat kepada M. H. Thamrin yang pada saat itu menjabat sebagai ketua fraksi nasional, wakil ketua volksraad, dan ketua bidang politik parindra. Ki Hajar Dewantara dalam suratnya mengatakan bahwa jangan sampai kekuatan rakyat jatuh ke jepang atau belanda. Kita harus memperkuat persatuan untuk mencapai kemerdekaan. pada periode ini elite politik bangsa Indonesia memang terbagi menjadi dua yaitu pendukung jepang dan penolak jepang.

Sumber:
Surat Ki Hajar Dewantara pada tanggal 16 Mei 1940
Majalah Soeara Parindra
Otobiografi Jendral Hoegeng Iman Santoso
Jejak Intel Jepang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar